BAB I
SEJARAH
A. Penyebaran
Manusia Pertama Di Balla
Menurut
penuturan orang tua secara turun temurun dan dari bukti-bukti sejarah yang
masih ada bahwa pada mulanya daerah balla mulai didiami pada saat kedatangan
nenek arruan sugi anak hasil perkawinan Nene’ Tokalua’ dan nene’ Bone di
Rantebulahan. Nene’ Arruan Sugi’ ini datang menduduki daerah yang kemudian
diberi nama Tondok paku ( Wilayah Kecamatan Balla Sekarang ) karna banyak
dijumpai Tumbuhan Paku di daerah tersebut. Dari nene’ arruan sugi inilah yang
beranak cucu trsebar dipaku dan daerah sekitarnya.
TOKALUA (
Baine ) x BON ( Muane )
LAHIR
ANDAN BUNTU KE
RANTE SALUMOKANAN
BALI KE
RANTEPALADO
TODI
URA-URA KE
NAPO / MANDAR
ARRUAN KE
SALUTABO
ARRUAN SUGI KE BALLA (
PAKUAN )
LIKU
MALILLIN KE
MESSAWA
MANNA BABA KE
SINDAGAMANIK
B. GELAR
DAN STRUKTUR
Pada saat
pembagian mana’ keedudukan Balla dahulu disebut Indona sepakuan yang
berkedudukan di Rante paku dan diberi gelar :
“ANAK DATUNNA SANGKADA NENE’, SOMA
KARAENGNA SANGKADA TOMATUA.
TALA NAIRI’ ANGIN TALA NASIMBO LALINDIN
TALA KANDEAN DENASAN
TALA TIBAKAN ISI BALAO, TALA MAILU, TALA
MATINNA
TODI KULAMBU MANIKKI, TODITAPPERE BULAWANNI
ILLALAN KONDOSAPATA UAI SAPALELEAN “
dari ada’ (
indona sepakuan) ditetapkan bali ada’ di balla peu’ digelar “ Tampakna Bambang Birina Su’buan Ada’
sangkeran tinting undanan lappa-lappa”. Selain ada’ dan bali ada’ ditetapkan
pula struktur kehadatan dalam komunitas ada’ sepakuan yang membantu ada’ dalam
menjalankan urusan-urusan khusus yaitu :
1. Patarintinna
Bulawan, Wase Painduk
Mempunyai
Tugas sebagai pa’bisara
2. Toma’kada
Lembang / Topalindo
3. Bitti’
Tamalilu ( HUMAS )
4. Pangngulu
Tau
5. Indona
Pariama ( So’bok )
Mengatur
Perekonomian
6. Toburake
/ Toma’ Gandang
7. Toma’
Piso-piso ( Limanna Ada’ )
8. Dapo’na
Ada’
9. Tomebalun
10. Toma’
Kada Barata
Pemangku
hadat sepakuan yang pertama dilantik adalah nene’ TAMUKKU’ dan pemangku hadat
trakhir yang dilantik adalah Nne’ PUSSU’ pada tahun 1959. Adapun urutan yang
perna menjadi pemangku adat sepakuan adalah :
1. NENE’
TAMUKKU’ DI
PAKU
2. NENE’
BANGA’ LALAN DI
PAKU
3. NENE’
KARAENG DI
PENA’
4. NENE’
TADIBALI DI
PENA’
5. NENE’
TAMBUSISI DI
PENA’
6. NENE’
BASO’ DI
PENA’
7. NEN’
PASAMBOAN DI
PENA’
8. NENE’
PUSSO’
Daerah indona spakuan pertama
kali meliputi Balla Messalu, Balla Tumuka’, sebagian bata rirak sampai k
ne’amba ma’bala panambu, malolo turun ke lempan sampai ke salu mamasa, sampai
di uai ruruk ( sirope) menyberang sungai mamasa
sampai di salubue ( Tok Pao ) masuk k salubue makbala salu bungin kendek
tau-tau. Setelah mellangkena padang dipa’tondokki maka batas berubah dari
ba’bana wai ruruk sampai di to’pao salubue naik di gunung tanduk bulawan turun
ke kanan naik gunung babu’ malolo sampai tanete tumaku lamban di paragi naik di
tampakna benteng kendek langngan sara-sarang.
BAB II
HUKUM ADAT
A. Ada’
Tuo
Daerah pitu
ulunna salu kondosapata’ wai sapalelean mengenal hukum yang disebut ada’ tuo
yaitu ummita bubunganna ada’ tuo tangmate mapia tangkadake ( ditampa rara’,
dikondo bulawan ) dengan jenis hukuman :
1. Mariri
pala’ lentek direngnge’ ponno disariri la’bi
2. Dibatta
lentek tau, tappa lako lentek teedong
3. Dibatta
lentek tedong tappa lako lentek bai
4. Dibatta
lentek bai tappa lako lentek manuk
5. Dibatta
lentek manuk, kada pamolena
Dengan
istila dipkuli’ dipbalulang dipatakinni takinna.
6. Toma’
bendan bitti tomak benna kumua, toma’bussuan siku ditibe (disua) lako padang
tadi ada’i
Setlah
peresmian to’pao dimamasa ada’ tuo dipermantap. Semua hadat-hadat dipitu ulunna
salu berkumpul di mambie dipimpin oleh nene’ Dettumanan dan mecetuskan beberapa
semboyan :
Mesa kada
dipotuo, pantan kada dipomate
Wai mata di
pa’indan, ptawa talabu’
Tomalea
rangka’na; toborrong penaian; tore’de pampolonganna
Mala
ditampa rara’ dikondo bulawan
B. Tingkat
kesalahan
I.
1. Topapatean
2.
toparasun
3.
ungkalung timbu dirangkang
4. batta
sala
5. mananda’
sala-sala
6.
topeparitaan
II.
1. Topatongaan (mataran Puduk)
2. tosiundu
somba’/kada timbu kada issong
3.
topakatto (ma’menna kumua)
4.
tosiperarai
5. toma’
leka-leka
6.
umpelokoi liang
7.
topabullean
8. topaturo
9.
toditikkudui
10.urrusa’
panda tomate
11.
palempang sitarru’
12.
sipekula’
Selain itu masih ada bentuk
pelanggaran lain yang mendapatkan sanksi hukuman yaitu :
-
Kedengan tau urrusa’ parri’na to parri’,
tokasalaan dipepobulle bai
-
Kedengan tau urrusak panda tomate, dipepobulle
bai
-
Tokemuane / kebaine anna ta’pa lendu’ panda
pa’totiboyongan umbawa bai lako so’bok
-
Kdeengan tau umbokoi so’bok untunu bai
BAB III
BUDAYA
A. Pemali
Appa’ Randanna
Budaya
mamasa berangkat dari pemali appa’ randanna yaitu :
1. Banne
tau = 33 Pasal 700 butir
2. Pa’totiboyongan = 44 Pasal 7000
butir
3. Kaparrisan
= 22 Pasal 70 Butir
4. Panda
tomate = 1 pasal 7 butir
Jumlah = 100 pasal 7777 butir
Poin 1 – 3
merupakan acara rambu tuka’ sedangkan poin 4 adalah rambu solo’
1. Bann
tau
Banne tau
adalah upacara atau pemalasan untuk kamasakkean. Misalnya prosesi dilakukan
kepada anak yang baru lahiryaitu :
-
Popa’dapo’ 1
ayam dikorbankan
-
Palangngan para 1
ayam
-
Dipassu’dukan 1
ayam
-
Diburakei 12
kutu’na pare dipadio barang
-
Dipaisungngi satu
ekor babi
-
Diplambai satu
ekor babi
Untuk acara pelamaran kusus
untuk daerah balla dimulai dari passusukan, kemudian acara pa’randangan dan
pa’sombaan (pesta pernikahan)
Uuntuk calon pengantin yang
mempunyai hubungan darah maka harus melalui prossi :
-
Sampo pissan anna sampo penduan kattuan lolo
-
Sampo pentallun anna sampo pennappa’ ma’lntenan buntu (dipolo Barra’)
-
Sampo pellima ke atas ( katonan Tau ) poli’ lolo
Catatan :
Tana’
koa-koa lulako tana’ bulawan, maka harus ma’renden tedong
2. Pa’totiboyongan
Hal ini
mnyangkut peraturan perekonomian oleh toso’bok (indona pariama). Sebelum turun
sawah maka harus melewati bebrapa prosesi terlebih dahulu :
-
Diparapa’ ulunna salu korbannya yaitu satu ayam
dipotong digunung hulu sungai oleh toma’ piso-piso
-
Disapan ba’bana minanga satu ayam dipotong
dimuara masuk sungai mamasa oleh toma’piso-piso
-
Dipatama dapo’ (satu ayam oleh so’bok)
-
Dipalangngan para (satu ayam oleh so’bok)
-
Ma’pasau’ ( satu ayam dipangnganni oleh so’bok)
-
Mempala’ (satu ayam oleh so’bok)
-
Untambunni dalame (ma’bungka) satu ayam dipotong
di sawah oleh so’bok
-
dibuka dalame (mentompo ) satu ayam dipotong
oleh so’bok
-
mantanan pare dipotong satu ekor babi olh so’bok
disawa
tiga hari
setelah so’bok ma’tossok ( ma’bungka ) baru umum bisa kerja sawah. Kalau hasil
panen berhasil dan baik maka diadakan acara ma’tammu bulung dimana dipotong
satu ekor babi sebagai ungkapan syukur.
So’bok
sebagai pengatur perekonomian tidak boleh marah, jadi kalau so’bok melihat ada
kesalahan terjadi dalam masyarakat dan dianggap mempengaruhi panen maka so’bok
ma’loko illalan Sali alang berpakaian lngkap so’bok, sehingga orang mengerti
bahwa ada sesuatu yang tidak beres sehingga perlu dituntaskan (dipessaluan)
Pada setiap
proses mulai dari turun sawah sampai panen melahirkan sejumlah permainan rakyat
yaitu :
1. saat
ma’bungka dilakukan permainan ma’tenta
2. saat
massese dilakukan permainan ma’temba’
3. saat
marrui’ dilakukan prmainan ma’logo
4. saat
mangngambo’ dilakukan permainan ma’buang-buang
5. saat
tumorak dilakukan permainan io-io, ma’sintio dan ma’terre’
6. saat
metaiyan dilakukan permainan ma’olo lio’, ma’galunteba’ ma’sintio
7. sesudah
potong padi (meallo) dilakukan permainan ma’nasu-nasu ma’gasing
8. sesudah
mangnganna dilakukan permainan ma’alu-alu dan ma’palludaan
3. Kaparrisan
Merupakan
acara syukuran dengan prosesi sebagai berikut :
1) Melambe
bidang
Mendirikan
pisang diatas rumah dan dilakukan pmukulan tambur (gandang bere’) oleh 4 orang
toma’gandang dan dua orang toma’burake. Pada acara ini dipotong satu ekor babi.
Uraian /
jenis gandang bere’ :
-
Turun
-
Lewa
-
Lamban
-
Totik mesa
-
Totik dua
-
Bawan-bawan
-
Tumpang
-
Salu tallu
-
Siguntuk
-
Gandang sitole’
-
Tuntun bukku’
-
Tumbaraka patettek
-
Balonten
-
Tumbaraka
-
Sanga-sanga
-
Uran bara’
-
Toron bua
-
Matti’ tombang
-
Lamban
-
Darappi’
2) Umpakendek
Gandang
Memukul
gendang ( Darappi’)
3) Permainan
simbong
Dilakukan
dengan syair berbalas wanita dan pria
Pembukaan
syair :
-
Umbanto puana parri’ to nakamasei puang
napolalan pole’ temo malaki’ ma’mesa-mesa
-
Masaimi sikukua garanki paningoan
Jenis atau
tingkatan kaparrisan ada delapan macam yaitu :
1. Malangngi’
Syukuran
kluarga untuk perempuan dalam kemenangan suatu pergumulan hidup dan anak
perempuan itu ditabiskan dalam menerima tanggungjawab sebagai ibu. Tarian yang
ditampilkan adalah tari bisu 12 babak/macam dilaksanakan diluar kampung (gunung)
Dilakukan
dengan memotong ayam dan babi
2. Menani
pare
Syukuran
atas keberhasilan panen padi yang mlimpah dilakukan dngan memotong ayam dan
babi
3. Bisu
Syukuran
keluarga untuk perempuan dan dilakukan di atas gunung yang ada pohon beringin
yang dikorbankan adalah ayam dan babi
4. Bulu
londong
Syukuran
keberhasilan suatu wilayah dalam memenangkan pergumulan baik batin maupun
fisik. Pada acara ini menampilkan tarian bulu londong, tarian pangngae dan
tarian bilolo dilakukan dengan memotong ayam dan babi.
5. Ma’pararuk
Ma’pararuk
adalah syukuran tertinggi untuk laki-laki di atas dari bulu londong dilakukan
di atas gunung menampilkan tarian bangkula’ dan tarian mangnganda’ dilakukan
dngan memotong ayam dan babi
6. Rinding
bai
Syukuran
dimana babi menjadi korban utama
7. Rinding
tedong
Kerbau
menjadi korban utama. Pesta ini berlangsung satu – dua minggu dan tiap malam
peserta diberi makan dan minum. Tarian yang di tampilkan adalah tari malluya,
burake, dan tari sallia
8. Ma’bua
Syukuran
trbsar dan sangat tinggi nilai keberuntungan yang diterima. Saat pesta
diselenggarakan ini jumlah tarian ditampilkan antara lain :
Malluya,
burake, simbong, dan semua tarian lainnyapun dapat ditampilkan. Syukuran ini
lamanya 30 hari dilaksanakan dirumah. Pada syukuran ini hewan yang dipotong
adalah aya, babi dan kerbau
4. Panda
tomate
Merupakn
rambu solo’ (pa’tomatean) yang terbagi atas beberaa tingkat :
-
Dibalunui
Bulu ayam
yang dibakar, lamanya, jenazah di atas rumah adalah satu malam
-
Dipasspakan
Satu ekor
ayam diotong, lamanya jenazah diats rumah adalah satu malam
-
Salu bai/melalan bai
Hewan yang
dipotong adalah babi. Lamanya jenazah diatas rumah adalah satu malam
-
Diatekkenni
Satu ekor
kerbau diotong lamanya jenazah di ats rumah adalah satu malam
-
Dipa’bonnosan Gandang
Satu ekor
kerbau besar diotong lamnya jenazah diatas rumah satu malam
-
Tuntun pitu
Dua ekor
kerbau diotong dan dibunyikan gendang (timpang). Lamanya jenazah di atas rumah
adalah dua malam.
+ kalolina’
dipotong satu Babi
+
pangkaroiba’ba diotong sartu ekor babi
+ kinallo
liang diotong satu ekor ayam
+
pembabasan dipotong satu ekor kerbau
-
Balado
Tiga ekor
kerbau dipotong jenazah dirumah lamanya tiga hari
-
Ruran
Lima sampai
delapan kerbau dipotong. Dan harus ada kerbau bonga, lamanya jenazah diatas
rumah 8 – 18 hari. Acara ruran ini harus paling siap sebab sudah siap segala
sesuatu dimana babi diotong minimal dua ekor siang hari dan dua ekor malam
hari.
-
Allun
Minimal
sembilan ekor kerbau dipotong dan lamanya jenazah diatas rumah adalah enam
bulan samai satu Tahun di atas rumah.
Khusus untuk jenazah bayi yang
belum punya gigi (anak malayu) tidak boleh bermalam diatas rumah, seekor babi
dipotong dan jenazah dijaga di alang selama tiga hari.
B. PEnyebaran
Aluk
Passangkasan
( Aluk ) menyebar diwilayah mamasa dalam tiga bagian yakni :
1. Aluk
mangngola yaya disebut “ALUK SANDA RUPPUKNA” sibawa kamalangisan sola gayang
sa’de artinya aturan yang daat dibenarkan melakukan bahan korban apa saja
sesuai dengan kondisi alam dan ikut bersama acara malangngi’. Kerbau yang
diersembahkan dibunuh melalui samping kiri aluk sanda ruppukna peloornya adalah
BOBOLANGI’ dan SOPANG wilayah pengaruhnya meliputi Tabang, Tabulahan, Galumang,
sebagian Mambi sampai Mamuju.
2. Aluk
Manggola tangnga disebut “ALUK SANDA MA’PATA ATAU SANDA MATA” sibawa gayang sa’de anna pa’belaan artinya
aturan sekecil-kecilnya un telah dibuat aturannya tinggal diikuti manusia
sesuai dengan kemampuannya. Kerbau bilah dibunuh ditombak melalui samping kiri.
Eloor aluk ini adalah PA’DORAN. Wilahnya melalui dari ana’ turun ke Mamasa
3. Aluk
Mangngola Illau’ disebut “ALUK SANGKANDEAN / ALUK SANGTANGNGASAN” dibawa gayang
kollong artinya aturan dikenal satu jalur saja tanpa ada variasinya dan kerbau
dibunuh dengan cara di tombak lehernya. Pelopor aluk ini adalah TANDIGEGO dan SUNDIDI
wilayahnya meliputi Nosu, Simbuang, Messawa, Sumarorong, dan sampai di Pattae.
Dari sumber lain menyebut
bahwa aluk appa’ randanna diterima oleh BOBOLANGI’ melaqlui eran dilangi’
(Pohon Kosmos) dari Dewata di Langit. Sedangkan sejumlah sumber mnyebutkan
PA’DORAN yang pertama menerimanya.
Dari warisan diatas, ahirnya
dapat disimpulkan bahwa aluk (pa’sangkasan) di daerah mamasa mula-mula
dicitakan oleh PA”DORAN. Khususnya aturan dalam rambu solo’ lalu disempurnakan
oleh BOBOLANGI’ dan dalam perkembangannya sesuai dengan kondisi ditambahkan
oleh SOPANG. Untuk wilayah utara, sedangkan untuk wilayah selatan ditambah oleh
TANDIGEGO.
Paksangkasan ini pada mulanya
terdiri dari emat pokok ( Appa’ Randanna) lalu dikembangkan menjadi sanda
saratu’ dan Sanda pitu, itulah aluk ma’purondo dan adat ma’purondo.